hari ini baru mulai masuk setelah bbrp hari bed rest dirumah dengan diagnosa standar hasil widal paratifus hehehe, sambil deg deg an tapi optimis hasil gal culture senin nanti negatif bukan tifus.
tadi baca baca di milis sehat subject "tabungan pendidikan was perbanyak asi"
ya asi membuat kita ortu untung ga perlu beli susu mahal, anak untung dapet susu hasil ciptaan Allah yang maha kuasa, trus duit hasil ortunya kerja dikemanain?, ya sebisanya ditabung, mengingat biaya pendidikan yang mahal.
nah "mahal"nya ini sering jadi perdebatan, dulupun saya beridealisme, sekolah harus murah, perlahan idealisme saya rubah setelah realistis mengingat pengalaman pribadi, bahwa masalah sekolah itu bukan di murah atau mahalnya, tapi banyak faktor lain sehingga sekolah bisa dikatakan bermutu karena menghasilkan tunas tunas bangsa yang berguna bagi agama, bangsa dan negara.
ok, secara ga bisa banyak waktu buat nulis, email yang saya tulis ke milis sehat saya copy disini, walaupun banyak kekurangan karena terlalu buru buru nulisnya
—– Original Message —–
Sent: Friday, January 26, 2007 12:02 PM
Subject: Re: [sehat] Re: tabungan pendidikan anak == perbanyak ASI
wahhh seru ya….
sekalian curhat dehhh
aku salah satu ibu yang sejak punya anak dilema dengan sistem pendidikan di indo ini, sejujurnya tentunya dari segi harga
akhirnya, sedikit demi sedikit sambil mempelajari bbrp jenis tabungan yang bisa dipilih untuk pendidikan
makin lama kalau ada rezeki ya ditambah alokasinya
urutan pertama tentunya belajar dari pengalaman, hampir ga mampu bayar uang pendidikan tinggi (universitas), aku ga mau anakku mengalami hal sama
aku pilih tabungan atau asuransi yang memaksa aku untuk disiplin menabung, dan bisa diambil sesuai perhitungan inflasi saat reva mau sekolah tinggi nanti
kemudian setelah berasa cukup, coba buat yang buat daftar sma, smp kemudian sd kemudian untuk preschool
nah karena pasangan baru, sambil survey sekolah, dan berdoa semoga semakin hari pendidikan di indonesia merata dan kurikulum membaik, aku pilih sekolah dengan kriteria simple
1. deket
2. mengenal dunia anak
3. murah
4. ada pelajaran agama dan budi pekerti
nahh masuklah reva ke tk sederhana dan dikarenakan kedekatan dengan pihak yayasan pemilik, kita bisa diskusi, kasih artikel soal perkembangan dsb
tapi belakangan saya sadar, bicara soal kurikulum dan idealisme dengan pihak sekolah tentunya belum tentu sama dengan pihak gurunya
artinya kurikulum ok belum tentu penyampaian nya ok, atau tujuan jadi ga tercapai
belum lagi pengaruh lingkungan, yang memaksa terkadang guru jadi ga rasional
pikiran saya berubah
murah terpaksa saya coret dengan biaya realistis atau seimbang
dekat pun saya ubah jadi terjangkau alias ga perlu jauh jauh amat sampai memaksa anak bangun pagi buta dan ga sempet sarapan
saya fokus ke mengenal dunia anak
artinya… mengenali perkembangan anak sesuai tahapannya
saya ortu yang pernah diketawain krn ga ajarin anaknya calistung, padahal sebenarnya cuma beda metode aja, menghitung kan ga harus dgn berhasil menjawab sederet angka di kertas bukan?
ya karena saya percaya semua ada tahapannya
saya ingin anak saya bisa berhitung karena dia tau manfaatnya
saya ingin anak saya bisa membaca ya karena dia tau nikmatnya membaca dan kegunaannya
jadi jangan harap saya akan biarkan anak saya ke sekolah merasa terpaksa atau takut
saya ingin dia merasa nyaman di sekolah
ga takut untuk bertanya karena bertanya proses belajar bukan?
aku juga ga mau anakku nantinya ga ngerti buat apa belajar matematika, apa gunanya fisika? apakah harus menjadi pengacara, dokter, insinyur untuk hidup enak? apakah harus jadi artis untuk bergelimang harta? takbisakah aku exist membangun negara ini dengan menjadi penari, pelukis?
kasian juga reva, konsekuensi dia jadi anak pertama saya, dia sring saya ajak trial atau iktu program summer camp bbrp sekolah
dari situ saya pelajari mana yang menurut saya paling membuat reva mau berangkat dengan kesadaran penuh dan tanpa merasa dipaksa
begitu saya nemu, sekolah yang dia suka
saya terus menerus "menganggu" sekolahnya, soal metode, komunikasi dll
saya juga mencari sekolah yang terbuka, dalam artian mereka terbuka akan kritik dan mau mendengar
hehehe sebelum terlanjur jadi cerpen dan kepanjangan saya sudahi dehhh
karena saya bisa paham gundahan hati ortu semacam saya yang sampai sekarang pun masih terus berdoa kurikulum pendidikan negara kita membaik dan membaik, sehingga semua sekolah sppnya bisa rata, dan bisa menghasilkan orang orang yang menyadari betapa pentingnya ilmu dan menghargai pekerjaan sesuai profesinya masing masing
salam
ade-bunda reva dan wira
last but not least, inti dari keberhasilan seorang anak ga bisa dibebankan begitu saja kepada sekolah, kita ortunya adalah gurunya yang utama, sekolah hanya membantu, sebagus apapun sekolahnya, kalau dirumahnya ga ditunjang dengan pendidikan yang baik juga, jangan harap bisa mendapatkan anak yang potensial atau bermutu.
sebagus apapun kurikulum sekolahnya tapi ga mampu membagi pendidikan dan metode serta mensejahterakan gurunya, ya ga akan bisa juga menjadikan suatu sekolah itu bermutu.
hehehe jadi temen-temen yang nanti berminat bikin sekolahan, jangan lupa yaa kesejahteraan para guru sang pahlawan tanpa tanda jasa, bukan gaji gede aja.. tapi pendidikan mereka, penghargaan terhadap jerih payah, ehhh kok jadi pengen ngomong sama pengusaha juga ya hehhe, abis banyak pengusaha kurang menghargai tenaga kerja nihhh maunya dapat untung tapi meminimalisir modalnya dengan kurang respect terhadapa pekerjanya
mmm mulai error, time to have lunch hehehehe