Diare & Muntah

Akhir akhir ini, di mailing list banyak pertanyaan soal diare, muntah, batuk pilek, dan beberapa sms teman –teman juga begitu, anaknya mengalami diare. 

Saya masih ingat karena diare inilah saya menemukan kenyataan bahwa dokter yang komunikatif, baik hati dan ramah mau dihubungi 24 jam tidaklah cukup, dan menemukan dokter yang hamper 100% ideal (hehehe ga mungkin lah 100%) tapi ingettt bergantung pada dokter juga tidak boleh, karena dokter juga manusia, jadi wajar dokter khilaf, nah kalau kita dibekali sedikit pengetahuan, maka masih bisa mengingatkan sang dokter tentunya dengan senyum dan tidak berlagak sok tahu. Idealnya terjalin komunikasi 2 arah yang sepadan antara dokter dan pasiennya.

Saat ini saya ingin sedikit mengulas mengenai muntah dan diare, hasil dari baca-baca cuplik cuplik dari artikel-artikel dan makalah dari seminar PESAT

Kapan sih kita bisa mengatakan bahwa seseorang diare atau muntaber (muntah berak)?

  1. feses encer dan/atau berair,

  2. frekuensi lebih dari 3 – 5 kali perhari,

  3. kadang disertai muntah.

  4. kadang ada lendir di faeces

  5. kadang ada darah di faeces (diare karena amuba)

  6. muntah tanpa didahului batuk atau muntah buang lender/dahak (anaknya mba dewi joris dan mba luluk pernah muntah hebat lebih dari 16 kali sehari kalau tidak salah)

Prinsip utama, diare dan muntah itu gejala dari suatu penyakit, jadi yang diobati jangan gejalanya tapi cari dulu penyakit/penyebabnya setelah itu baru dilakukan pengobatan sesuai kebutuhan

Apakah muntah dan diare berbayaha?

Diare menyebabkan kehilangan garam (natrium) dan air secara cepat, yang sangat penting untuk hidup. Jika air dan garam tidak digantikan cepat, tubuh akan mengalami dehidrasi. Kematian terjadi jika kehilangan sampai 10% cairan tubuh. Diare berat dapat menyebabkan kematian.  (guideline diare by dr farina dan dr arifianto www.sehatgroup.web.id)

Diare yang disebabkan oleh amuba yang ditandai dengan adanya darah. Lendir pada faeces, amuba sendiri harus diliat di lab ga bisa dengan kasat mata atau dikira kira.

Terus gimana kalau seseorang muntah dan diare?

1.        jaga agar asupan cairannya tercukupi, yaitu dengan memastikan tetap minum sedikit sedikit tetapi sesering mungkin. Ini penting untuk menggantikan cairan yang hilang lewat muntah ataupun diare. Cairan apapun yang doyan jus buah juga boleh, teh manis, jus buah yg dijadiin es batu (tempel tempel dibibir kalau anak ngga mau minum, lumayan setetes setetes, wong kalau diinfus juga setetes setetes kan?), kalau minumannya mengandung gula harus diencerkan lebih bagus gulanya sekedar aja. Diare ga diare ga butuh gula banyak banyak kan?

2.        Jangan berikan obat yang dapat mengurangi muntah atau diare. at-obatan itu tidak berguna dan berbahaya.

Apasih bahaya kasih obat pemampat? Bukannya bagus jadi ga diare lagi?

Iya diare berhenti, tapi penyebabnya? Masih betah di usus. Kalau amuba penyebabnya? Trus karena dimampetin sama obat diare atau muntah, itu amuba jadi nangkring diusus dan membesar merusak usus, gimana? Ini bisa jadi bahaya laten.

3.        Beri minum setiap kali muntah. Tetap berikan ASI untuk bayi yang masih menyusui. Bagi bayi yang minum susu formula, susu tetap diberikan tidak perlu gonta ganti merek atau dicairkan.

4.        Berikan anak yang lebih besar satu cangkir (150-200 ml) cairan untuk setiap muntah banyak atau diare.

5.        Teruskan pemberian makanan jika anak anda masih mau makan, tapi jangan dipaksa ya, bisa dibantu apel kukus, pisang kukus.

6.        Rajin rajin cuci tangan sampai bersih dengan sabun dan air hangat, khususnya sebelum memberi makan dan sesudah mengganti popok atau celana.

7.        Pisahkan anak atau bayi yang terkena diare dari anak atau bayi lain sebisa mungkin, sampai anak tersebut sudah berhenti diare.         

8.        minum oralit (dalam bentuk kantung sachet dengan atau tanpa rasa tambahan) atau pedialyte untuk anak diatas 2 tahun bisa pocari sweat

9.        periksa faecessnya. Saya termasuk orangtua yang paranoid, jadi ketika anak mencret lebih dari 3x selama 2 hari, saya pasti ngubek ngubek faecessnya, karena periksa faeces di laboratorium murah, jadilah saya langsung saja periksa faecess ke laboratorium untuk memastikan apakah diare karena virus atau bakteri.

nomor 9 ini mesti diedit, secara hari ini saya dapat koreksian dari bunda dokter (thanks dok)

De,

—-cut— kan indikasi periksa tinja pada diare: (1) tinja berdarah, (2) diare kronis, (3) anak gizi kurang.

Bakteri pasti ada di tinja, wong usus isinya bakteri melulu
ya kan.
jadi indikasi periksa tinja bukan buat lihat bakteri dong ya …

hal penting yang harus diingat tanda-tanda dehidrasi jadi harus segera ke dokter

  1. mulut kering dan rasa haus.

  2. gelisah,

  3. elastisitas (turgor) kulit berkurang kalau dicubit lammmmaaaaa banget baliknya

  4. mata cekung,

  5. ubun-ubun mencekung (pada bayi),

  6. dan tidak adanya air mata sekalipun menangis keras.

  7. BAK kurang dari 3x dalam 24 jam

  8. lemah lesu tak berdaya tak mampu bangun, tak sadar diri

  9. muntah terus ga ada cairan yang bisa masuk

  10. sakit perut bangettttt

nah ada tambahan lagi salah satu penyebab diare bisa jadi karena antibiotik, jadi…. jangan sampe kalau lagi diare dapat antibiotik yang ga sesuai, salah salah bakteri baik di usus yang seharusnya bisa membantu memerangi bakteri jahat penyebab diare malah dibunuhin sama tuh antibiotik. nah ini mesti dibahas tersendiri nih, kapan kapan deh ya

ps: kalau ada yang salah… mohon dikoreksi…

2 Responses to “Diare & Muntah”

  1. Lina Says:

    Kalau diare berdarah & berlendir pada bayi yg baru berusia beberapa hari, gmn cara pengobatannya? Perlu waktu brp lama buat penyembuhannya? thanks

  2. Tanti Says:

    Anak saya sedang terkena diare (dokter bilang disentri). Mungkin sebenernya sudah sejak 3 minggu yang lalu kalau dilihat dari ciri2nya: feses berlendir dan sering BAB. Setelah dikasih probiotik dan zink oleh dokter, si dede sudah tidak BAB sering lagi, malahan jadi sembelit. Nah, 4 hari yang lalu, mulai lagi buang2 air-nya. Karena penasaran, akhirnya cari opini dokter lain yang kemudian menyarankan untuk mengecek feses-nya di lab. Ternyata memang positif ada amoeba-nya. Selain itu memang secara makroskopik keliatan lendir cukup banyak dan bau sekali. Dokter yang ke-2 ini akhirnya memberikan obat, kalau ngga salah namanya Flagyl untuk membunuh si amoeba ini (menurut beliau, probiotik tidak akan mempan lagi). Kira2 obat ini sesuai ngga ya? Setelah minum obat ini, frekuensi BABnya mulai berkurang, walaupun feses masih mengandung sedikit lendir dan masih berbau. Kemudian biasanya berapa hari diare seperti ini berlangsung? Agak2 khawatir juga. Thanks.

Leave a Reply