Pengobatan Tidak Rasional Marak di Indonesia

May 5th, 2008 by revawira

Berita Pers

Pengobatan Tidak Rasional Marak Di Indonesia

JAKARTA, 3 Mei 2008

Penggunaan obat yang tidak rasional masih marak di Indonesia, dan masalah ini menjadi tanggung jawab banyak pihak, dari pembuat kebijakan, asosiasi profesi tenaga kesehatan, industri farmasi, dokter, apoteker, hingga media massa dan pasien.

Kerja sama dan dukungan semua pihak mutlak diperlukan untuk memperbaiki kualitas pola pengobatan menjadi rasional sebagaimana dianjurkan Badan Kesehatan Dunia WHO.

Menurut WHO, pengobatan yang rasional adalah pemberian obat yang sesuai kebutuhan pasien, dalam dosis yang sesuai dan periode waktu tertentu, serta dengan biaya serendah mungkin baik bagi pasien maupun komunitasnya.

Pola pengobatan yang tidak mengikuti kaidah-kaidah di atas adalah pola pengobatan tidak rasional.

Demikian topik utama seminar Puyer: Quo Vadis? yang diselenggarakan Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Jakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) hari ini di Aula FK-UI Salemba.

Seminar yang diharapkan menjadi titik balik dunia kedokteran Indonesia untuk menata kembali pola pemberian obat agar menjadi rasional ini dihadiri konsumen kesehatan, dokter umum, farmasis, mahasiswa tingkat akhir dan staf pengajar FK-UI. Para pakar dari berbagai kalangan hadir sebagai panelis: Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK (Farmakologi FK-UI); dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K), MMPed (YOP); Dra. Ida Z. Hafiz, Apt. Msi (Farmasi FK-UI); Prof. dr. Effionora Anwar, M.S., Apt. (Farmasi FMIPA-UI); Huzna Zahir (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia); dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad (K) (IDI wilayah DKI Jakarta); Prof. dr. Mardiono Marsetio, Sp.M (K) (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran); dan dr. Zunilda S. Bustami, MS, Sp.FK (Farmakologi UI). Dr. Dra. Delina Hasan Apt, M.Kes bertindak selaku moderator diskusi terbuka di akhir acara.

Topik yang dibahas meliputi praktik peresepan yang baik, konsep pengobatan rasional, puyer dari perspektif farmasi, serta praktik pengobatan di negara lain. Pemaparan para ahli ini dilengkapi testimoni pekerja dan konsumen kesehatan mengenai pengalaman pengobatan dalam praktik sehari-hari.

Contoh pola pengobatan tidak rasional adalah pemberian beberapa obat sekaligus pada saat bersamaan dalam kondisi yang tidak perlu (polifarmasi), pemberian antibiotika yang berlebihan, serta tingginya tingkat pemakaian obat yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Salah satu contoh polifarmasi adalah pemberian puyer atau racikan (compounding) yang berisi beberapa obat sekaligus untuk anak-anak dengan gangguan kesehatan ringan harian seperti demam, batuk-pilek atau diare. Polifarmasi beresiko memicu interaksi obat.

Suatu analisis terhadap sejumlah resep untuk pasien anak-anak yang masuk di suatu apotek di Jakarta Selatan pada tahun 2005 menunjukkan bahwa 53% diantaranya merupakan pemberian obat secara polifarmasi (lebih dari 4 obat) dan 12% diantaranya memicu timbulnya interaksi obat yang tidak diinginkan (sumber: Media Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan).

Di beberapa negara berkembang, persentase peresepan antibiotika yang sebenarnya tidak perlu diberikan berkisar antara 52% sampai 62%.

Data yang terekam dari Indonesia berdasarkan survei yang dilakukan YOP mencatat sedikitnya 47% antibiotika yang diberikan sebenarnya tidak diperlukan.

Penggunaan antibiotika yang tidak tepat ini akan menimbulkan masalah baru, yaitu resistensi kuman.

Menurut Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK dari Farmakologi FK-UI, pemberian resep racikan (puyer) di luar negeri saat ini hanya tinggal 1%.

Sementara di Indonesia, resep puyer untuk anak masih sering sekali dijumpai. Dalam satu hari, apotek di salah satu rumah sakit swasta di Tangerang bisa membuat rata-rata 130 resep puyer.

“Peresepan obat racikan membawa risiko dan berbagai dampak negatif bagi pasien dan petugas farmasi. Kontrol kualitas sangat sulit dilaksanakan dalam pembuatan puyer karena tingginya kemungkinan kesalahan manusia. Selain itu, stabilitas obat tertentu dapat menurun bila bentuk aslinya digerus, sedangkan toksisitas obat dapat meningkat,” jelas Rianto lebih lanjut.

Profesi kedokteran ditantang untuk mau dan mampu melakukan audit profesi dan audit kerasionalan dalam memberikan resep sehingga dampak negatifnya dapat dihindari, seperti meningkatnya biaya pengobatan yang tidak efisien serta terjadinya efek obat yang tidak diharapkan.

Kurangnya informasi terhadap bukti ilmiah baru tentang obat dan farmakoterapi tampaknya dihadapi kalangan profesional kesehatan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ironisnya, kelemahan ini dimanfaatkan duta-duta farmasi sebagai peluang. Dengan gencar, para dokter dibanjiri informasi mengenai produk obat mereka. Sayang, informasi ini umumnya tidak seimbang, cenderung dilebih-lebihkan, dan berpihak pada kepentingan komersial. -Selesai-

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi: Yayasan Orang Tua Peduli Komplek PWR, Jalan Taman Margasatwa No. 60, Jakarta 12540 Tel: (021) 780 0271 dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K), MMPed (purnamawati.spak@cbn.net.id) dr. Yoga Pranata, S.Ked (doyogh@gmail.com)

way back into love

April 18th, 2008 by revawira

Way Back into Love

I’ve been living with a shadow overhead
I’ve been sleeping with a cloud above my bed
I’ve been lonely for so long
Trapped in the past, I just can’t seem to move on

I’ve been hiding all my hopes and dreams away
Just in case I ever need them again someday
I’ve been setting aside time
To clear a little space in the corners of my mind

All I wanna do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
Oh oh oh

I’ve been watching but the stars refuse to shine
I’ve been searching but I just don’t see the signs
I know that it’s out there
There’s gotta be something for my soul somewhere

I’ve been looking for someone to shed some light
Not somebody just to get me through the night
I could use some direction
And I’m open to your suggestions

All I wanna do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
And if I open my heart again
I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end

There are moments when I don’t know if it’s real
Or if anybody feels the way I feel
I need inspiration
Not just another negotiation

All I wanna do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
And if I open my heart to you
I’m hoping you’ll show me what to do
And if you help me to start again
You know that I’ll be there for you in the end

Buktikan

January 28th, 2008 by revawira

Dewi Sandra - Buktikan (ft. Rayen Pasto)

ketika, ketika kamu
dalam satu, cinta yg lalu
saja satu, kucoba untuk
mengenalmu, membaca kamu

ouh, lamakah kita bertahan
setiap tingkahku membuatmu
bertanya padaku

reff:
apakah kamu benar-benar sayang aku
tentu saja ku benar sayang kamu
buktikanlah buktikan
coba buktikan padaku

hati ini, cinta ini
hanya butuh, hanya ingin dirimu, dirimu selamanya
buktikanlah buktikan
coba buktikan kepadaku

dua minggu tlah berlalu, masih saja kutunggu
dirimu dari dugaanku, prasangkaan burukku
benarkah aku, salahkah aku
yang selalu meragukan cintamu

lamakah kita bertahan
tuk setiap tingkahku membuatmu bertanya padaku

reff

aku, ku akan membuktikan
ku akan menyaksikan
dan hanyalah kepercayaan yg bisa
membuat kita bertahan selamanya, selamanya

reff

apakah kamu benar-benar
apakah kamu benar-benar
apakah kamu benar-benar
apakah kamu benar-benar sayang aku (buktikan..)

Bincang ASI

November 13th, 2007 by revawira

Air Susu Ibu ("ASI") adalah anugerah yang terindah dari Maha Pencipta,
yang secara alamiah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan
ibu dan bayi. Pemberian ASI, makanan terbaik bayi, tak jarang mengalami
berbagai rintangan, antara lain kurangnya dukungan dari lingkungan
termasuk di dalamnya Tenaga Kesehatan.

Berangkat dari permintaan beberapa Dokter kepada KLASI untuk
menyelenggarakan Sarasehan ASI bagi Tenaga Kesehatan, dan menyadari
pentingnya peranan Tenaga Kesehatan dalam memberikan dukungan nyata untuk
suksesnya pemberian ASI Ekslusif, dengan segala kerendahan hati, YOP
mengadakan "Bincang- Bincang ASI bersama Para Dokter"

Bincang ASI ini akan mengupas tuntas

1.. Tehnik Inisiasi Menyusu Dini,
2.. Tehnik Memerah, Memberikan dan Menyimpan ASI
3.. Masalah seputar Menyusui,
4.. Kode Etik Pemasaran SUSU Pengganti ASI
5.. Penggunaan Obat Secara Rasional

Bincang-Bincang tersebut akan diselenggarakan pada:

Minggu, 25 November 2007

Markas SEHAT
Yayasan Orang Tua Peduli
Komplek PWR, Jalan Taman Margasatwa Nomor 60 Jakarta Selatan

Bincang ASI ini terbuka bagi Tenaga Kesehatan dan Dokter yang berminat menjadi peserta.

Keep learning, keep breastfeeding

KLASI - YOP
(Tim ASI YOP)
=Luluk Lely Soraya I - Ade Novita - Vida Parady - Esthetika Wulandari -
Caecilia Pudjiastuti - Anita S Putra=

Reuni 70 Bulungan

October 31st, 2007 by revawira

reuni… reuni… hadir ya … Minggu 4 November 2007, di Plasa Timur Senayan, dari tanggal 3 sampai 4 november, please…datang yaa… dari sini nanti kita bicara lebih serius lagi, apa sih yang kita bisa lakukan bagi bangsa kita ini, misal Tanam Seribu Pohon… jadi ga pa pa sekarang kumpul aja dulu yaaa

buat yang punya anak.. tenang aja.. bawa aja.. di Rezim Lounge bakal ada kids corner kerja bareng Klub Dino, trus yang hamil bisa duduk-duduk di sofanya vinotti, buat yang demen browsing… ada free Hotspot from CBN

dari panitia pusat sendiri ada panggung gembira yang bakal diisi alumni2 kita. info lebih lengkap klik www.sma70bulungan.com

oh iya untuk kana Rezim, mohon partisipasi ya… dengan kasih tau ke kana-kana hujuthulup lainnya untuk datang, dan kalau bisa urunan ke rekening amanda, tapi defaultnya masuk ke situ ga pake HTM

jadi tunggu apalagi, yuk kangen-kangenan

Surat Terbuka untuk Hardrock FM

September 23rd, 2007 by revawira

Kepada Yth.

GMHR Hardrock FM

PT RADIO ANTAR NUSA DJAJA

Gedung Sarinah 8th Floor

Jl. MH. Thamrin 11

Jakarta

10350

Dengan hormat,

Bersama ini kami menyampaikan keprihatinan kami atas penyiaran yang dilakukan oleh HardRock FM dalam acara GMHR pada hari Selasa,

18 September 2007

pukul 06.00-10.00 WIB. Acara tersebut dipandu oleh sdr. Panji & sdr. Stenny selaku penyiar HRFM.

Pada acara on-air tersebut, HRFM menyampaikan hasil riset yang dilakukan oleh Dr. Michael Kramer mengenai menyusui dan resiko asma & alergi. Point yang disampaikan ke pendengar HRFM antara lain :

  • Pemberian ASI tidak melindungi anak dari resiko terkena asma dan alergi

  • Tidak hanya itu, pemberian ASI akan meningkatkan kemungkinan anak terkena asma dan alergi

HRFM menyampaikan bahwa hasil riset tersebut dilansir dari situs time.com (http://www.time.com/time/health/article/0,8599,1660962,00.html).

Penyiaran tersebut menimbulkan berbagai macam pertanyaan, kekhawatiran dan keraguan dari para ibu menyusui yang disampaikan melalui mailing list kami, sehat@yahoogroups.com Mereka khawatir atas kebenaran berita yang disampaikan dan disiarkan oleh HRFM.

Perlu diketahui bersama bahwa hingga tahun 2007 (laporan dari Depkes), hanya sedikit sekali (<13%) tingkat kesadaran dan keberhasilan ibu

Indonesia

yang memberikan ASI kepada bayinya. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya pelanggaran pemasaran susu formula dan minimnya informasi edukasi mengenai ASI di berbagai kalangan masyarakat

Indonesia

. Pemberitaan yang dilakukan oleh HRFM jelas sedikit banyak menurunkan kepercayaan diri banyak ibu, terutama pendengar HRFM, untuk menyusui bayinya. Kami memahami bahwa HRFM merupakan media yang mayoritas pendengarnya berasal dari golongan usia produktif yang juga calon pencetak generasi baru berikutnya.

Atas pertimbangan tersebut diatas, kami merasa perlu untuk melakukan klarifikasi secara jelas dan menyeluruh mengenai temuan yang dipublikasikan oleh Dr. Michael Kramer di berbagai media. Hal ini penting agar tidak terjadi kebingungan dan keraguan bagi generasi muda

Indonesia

, khususnya pendengar HRFM.

Dr. Michael Kramer telah menyampaikan hasil penelitiannya yang dipublikasikan lengkap dalam situs medis : http://www.bmj.com/cgi/content/full/bmj.39304.464016.AEv1

Riset tersebut dilakukan untuk mengetahui lebih jauh mengenai dampak pemberian ASI thd menurunnya tingkat asma & alergi pd anak. Hasilnya menunjukkan bahwa ternyata di negaranya menyusui tidak menurunkan secara signifikan resiko anak terkena alergi ataupun asma.

Namun ada beberapa hal yg ditekankan & ditemukan oleh peneliti dalam risetnya adalah :

1. Menyusui melindungi anak dari resiko asma relatif masih kontroversial dan butuh penelitian lebih lanjut.

2. Riset dilakukan dg randomised trial sehingga keakuratannya jg masih perlu diteliti lebih jauh

3. Asma dan alergi adalah complex disease dan ditentukan oleh byk faktor.

    Hingga saat ini pun masih byk yg belum diketahui secara pasti faktor penyebab dan mencegah asma secara menyeluruh

4. Dari hasil riset yg dilakukan oleh Kramer menemukan juga bahwa menyusui mengurangi resiko secara signifikan anak terkena infeksi gangguanpencernaan dan resiko terkena eksim (atopic eczema).

5. Menurut yg diklaim oleh Kramer, riset yg dilakukannya tidak utk membuat ibu2 utk berhenti memberikan ASI ke bayinya. Karena manfaat dari ASI sendiri sudah luar biasa terbukti dari banyak sekali riset.

Namun demikian publikasi dari berbagai media

massa

di dunia tidak disampaikan secara lengkap, sehingga membuat riset ini menjadi kontroversif dan cenderung menyesatkan. Sebagai tambahan, Dr Michael Kramer telah meneliti banyak sekali riset ttg laktasi dan hasil risetnya digunakan juga utk memperkuat advokasi pemberian ASI bagi balita dan kebijakan ttg pentingnya ASI eksklusif selama 6 bl.

Untuk lebih mempertegas kembali, beberapa hari yang lalu kami melakukan korespondensi melalui e-mail dengan Dr. Michael Kramer mengenai hasil risetnya. Korespondensi tersebut terlampir bersama

surat

ini. Dalam korespondensi tersebut, beliau menjelaskan di berbagai media, bahwa penelitiannya bukan utk mendorong ibu tdk menyusui bayinya. Berikut adalah terjemahan singkat dari penjelasan Dr Michael Kramer :


"Meskipun hasil penelitian kami menunjukkan bahwa lamanya menyusui (termasuk
pemberian ASI eksklusif) tidak menunjukkan penurunan signifikan thd resiko
anak terkena alergi & asma, namun menyusui terbukti telah memberikan manfaat
luarbiasa bagi ibu & anak. Manfaat ini sangat penting dibutuhkan terutama
bagi mereka yg tinggal di negara berkembang, termasuk

Indonesia

. PROBIT
(riset yg dilakukan oleh Dr Kramer dkk di Belarus-red) justru dibuat utk
memperkuat rekomendasi yg dikeluarkan WHO mengenai pentingnya ASI eksklusif
6 bl dan pemberian ASI bersama dg MPASI bagi bayi >6bl hingga usia 2 th atau
lebih."

Kami berharap klarifikasi yang disampaikan oleh Dr. Michael Kramer dapat menginformasikan secara lengkap dan tepat. Besar harapan kami, pihak HRFM dapat menyampaikan klarifikasi atau penjelasan atas penyiaran yang telah dilakukan pada tanggal 18 September 2007 kepada pendengar HRFM. Sehingga keraguan dan kebingungan yang dirasakan oleh pendengar HRFM dapat ternetralisir dengan informasi yang akurat dan tepat.

Kami yakin HRFM sebagai media kepercayaan masyarakat dapat secara nyata membantu mensukseskan promosi pemberian ASI bagi anak-anak

Indonesia

. Terutama dalam mencapai target Millennium Development Goals.

Sukses selalu menyertai HRFM. Terima kasih atas dukungan dan perhatiannya.

Hormat kami,

Luluk Lely Soraya Ichwan & Ade Novita

Konselor Laktasi

Yayasan Orang Tua Peduli (YOP)

http://www.sehatgroup.web.id/

"Proudly & consistently support breastfeeding from the first start and beyond"

====================================================================


LAMPIRAN SURAT TERBUKA untuk HRFM

Mengenai Penyiaran Menyusui & Resiko Asma dan Alergi


—————————- Original Message —————————-

Subject: Re: Respond from

Indonesia

From:    "Michael Kramer, Dr."

Date:   

Wed, September 19, 2007

 

12:14 am

To:      lsoraya@cbn.net.id

————————————————————————–

Hi,

Here is my comment for breastfeeding mothers in

Indonesia

Even if prolonged and exclusive breastfeeding has no effect on reducing the risk of asthma and allergies, it is of proven benefit for many health outcomes both in the child and the mother. Nowhere are these benefits of  greater importance than in developing countries, including

Indonesia

. PROBIT (our study in

Belarus

) has reinforced WHO’s recommendation for
exclusive breastfeeding for 6 months and continued partial breastfeeding  over the long term.

Hope this is enough to answer all the issues

Michael S. Kramer, MD

—–Original Message—–


From: Luluk Lely Soraya I

To: Michael Kramer, Dr.

Sent: Tue Sep 18

12:15:59

2007

Subject: Respond from

Indonesia

Hi Dr Michael Kramer,

My name is Luluk Lely Soraya Ichwan from Concerned and Caring Parents Foundation (Yayasan Orang Tua Peduli / YOP) in

Jakarta

,

Indonesia

. I am a breastfeeding mother and also a lactation counselor.

In the last few days, your study result on relation of breastfeeding and asthma and allergies has become hot issue in many countries, including in

Indonesia

. Media in

Jakarta

has exposed your study as a weakness of breastfeeding and â?ouseâ? it to discourage mothers to breastfeed their babies. As you may know, only less than 13% of mothers in

Indonesia

breastfeed their infants (according to Demographic and Health Survey 2006). We still have to face many cultural and political issues related on  breastfeeding in

Indonesia

.

I do understand that your study was not intend to discourage mothers to stop breastfeeding their babies. But it is happened. Many breastfeeding mothers in

Jakarta

feel worry and confuse on the fact of your study. I do really appreciate if you could reply this email and give a short & clear
statement or clarification for us.

Thank you for your attention.

Sincerely yours,

Luluk Lely Soraya I

"Proudly & consistently support breastfeeding from the first start and beyond"

Save Our Generation

August 1st, 2007 by revawira

Hangatnya Dekapan Dada Bunda dan Kesempatan Menyusu Dini serta Air Susu Ibu sebagai satu-satunya nutrisi dalam 6 bulan pertama kehidupan Bayi; Wujud Kasih Sayang dan Peduli akan Kesehatan Generasi Penerus Bangsa….

Happy World breastfeeding Week dan Bulan ASI Se-Indonesia

proudly support breastfeeding for 2 Years and beyond

Wbw2007

Kuesioner ASI

June 20th, 2007 by revawira

Dear All..

Minta tolong dong ya…tolong banget utk isi kuisioner ini…

nanti dikirimkan ke email dengan subject : KUISIONER ASI ke alamat email anovita@cbn.net.id dan arifianto@cbn.net.id

Kuisioner ini nantinya akan dijadikan riset oleh Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) yang menaungi milis sehat@yahoogroups.com

Kuisioner ini ditujukan untuk mengkampanyekan dan turut menyukseskan ASI ekslusif. Tidak terbatas untuk ibu yang telah melahirkan saja, namun utk ayah, calon ayah, para eyang sayang, para pasangan yang hendak merencanakan pernikahan, yang tidak memberikan ASI pokoke semuaaa deh……… buat yang belum pernah melahirkan bisa ditambahkan keterangan "belum mengalami"

Yukkk bantu bantu…..Terima kasih banyakkkk….

nb : mohon nanti menuliskan mengetahui kuisioner ini via friendster… dan buat temen2x yang di luar

indonesia

tolong ditulis tempat tinggalnya ya

================================================================
KUESIONER ASI

Data Pribadi

Nama : ________________

Usia : ________________

Jenis Kelamin : ________________

PENGETAHUAN

1.. Apakah Anda pernah memperoleh pendidikan/pengajaran mengenai ASI & menyusui?

1.. Ya (sebutkan dari mana) _______________________________________

2.. Tidak

2.. Tahukah Anda bahwa pada usia 0-6 bulan sebaiknya bayi hanya mengkonsumsi ASI?

a. Ya b. Tidak

3.. Menurut anda, apakah Susu Formula masa kini dapat menyamai komposisi dan keunggulan ASI?

a. Ya b. Tidak

4.. Apakah Rumah Sakit / Bersalin yang Anda kunjungi untuk memeriksakan kehamilan memiliki klinik laktasi?

a. Ya b. Tidak

5.. Apakah DSOG/Bidan Anda memberi penjelasan mengenai ASI pada saat pemeriksaan kehamilan dan menyarankan Anda untuk memberikan ASI Eksklusif?

a. Ya b. Tidak

SAAT KELAHIRAN

6.. Apa yang dilakukan DSOG / bidan / perawat anda setelah bayi Anda lahir?

1.. Memperlihatkan bayi pada Anda untuk dilihat saja (tanpa Anda pegang)

2.. Memberikan bayi pada Anda untuk dipeluk dan disusui

3.. Memandikan bayi

4.. Bukan salah satu di atas, sebutkan apa tindakannya

_____________________

7.. Kapan Anda pertama kali menyusui bayi Anda yang baru lahir?

1.. 0-30 menit setelah lahir sebelum bayi dibersihkan

2.. 30 menit - 1 jam setelah kelahiran

3.. 6 jam setelah kelahiran

4.. 6 - 24 jam setelah kelahiran

5.. Lebih dari 24 jam

8.. Apakah papan nama di box bayi Anda atau jam dinding atau kalender di Rumah Sakit / bersalin ada merek Susu Formula?

1.. Ya (sebutkan merek Susu Formulanya dan nama Rumah Sakit/Bersalinnya) ____________________________________________________

2.. Tidak

9.. Apakah bayi Anda tidur bersama dalam satu kamar dengan Anda di Rumah Sakit/ Bersalin (rooming in atau rawat gabung), termasuk di malam hari?

a. Ya b. Tidak

10.. Bila bayi Anda tidak tidur di satu kamar dengan Anda atau tidur di kamar bayi, apakah bayi Anda diberikan kepada Anda setiap kali bayi ingin menyusu, termasuk di malam hari?

a. Ya b. Tidak

11.. Apakah selama di Rumah Sakit / bersalin bayi baru lahir Anda diberikan Susu Formula atau cairan lain selain ASI?

1.. Ya (sebutkan apa yang diberikan)

____________________________________

2.. Tidak

12.. Apakah pada saat bayi pulang ke rumah, Anda dan bayi Anda dibekali contoh / sampel / hadiah dan brosur Susu Formula?

a. Ya b. Tidak

SUSU FORMULA

13.. Apakah anda pernah dihubungi oleh bagian pemasaran / produsen Susu Formula?

a. Ya b. Tidak

14.. Apa yang Anda lakukan ketika Anda dihubungi oleh produsen Susu Formula?

a. Langsung menolak

b. Mendengarkan aau menerima saja semua penjelasannya

c. Berargumentasi

d. Lainnya, sebutkan

_____________________________________________________

15.. (Bagi yang mengkonsumsi Susu Formula) Apakah Anda mengkonsumsi Susu Formula dari produsen tersebut?

a. Ya b. Tidak

16.. Pendapat Anda mengenai promosi Susu Formula saat ini:

a. Baik

b. Sedikit meresahkan namun tidak mengganggu

c. Sangat meresahkan dan menganggu

d. Lainnya, sebutkan

_____________________________________________________

17.. Pendapat Anda mengenai pelayanan kesehatan Ibu dan Anak terutama tentang Laktasi yang Anda peroleh:

a. Kurang sekali

b. Cukup memadai

c. Sangat memuaskan

IBU BEKERJA

18.. Selama Anda bekerja, apakah Anda memeras/memompa ASI dan kemudian disimpan untuk diberikan ke bayi Anda?

a. Ya b. Tidak

19.. Tahukah Anda bahwa Undang-undang Tenaga Kerja mengatur bahwa pekerja wanita patut diberi kesempatan untuk menyusui bayinya?

a. Ya b. Tidak

20.. Apakah tempat Anda bekerja memberikan waktu dan/atau kesempatan bagi Anda untuk memerah atau memompa ASI di tempat kerja?

1.. Ya, sebutkan dimana Anda memompa ASI?

____________________________

2.. Tidak

21.. Apakah di tempat Anda bekerja tersedia ruang khusus untuk memerah/memompa ASI?

1.. Ya

2.. Tidak, sebutkan tempat Anda memerah/memompa ASI selama di tempat bekerja ____________________________

Terima kasih atas waktu dan kesediaan Anda mengisi kuesioner ini

sinusitis

April 17th, 2007 by revawira

Maret lalu, kesibukan luar biasa harus saya hadapi, mulai dari kesibukan kantor dan yang paling utama (hehehe) kesibukan menyiapkan family gathering mailing list sehat. tak dinyana saya terserang sakit, demam tinggi terus menerus yang sebelumnya didahului sakit kepala yang awalnya saya kira migrain seperti biasa dan PMS. setelah penasaran karena merasa ini bukan flu biasa, saya datangilah dokter THT, yang mendiagnosa saya sinusitis, (btw nih dokter kok rada mirip clooney yaaa), karena saya yang terlihat detail banget nanyanya, disarankanlah foto kepala, hasilnya sinusitis abiss di pipi kiri ulang alis dan hidung, pantesan gusi kiri saya berasa sakittt banget padahal drg dah bilang "gigi kamu baik baik saja".

sayang dr ganteng ini, ga terlalu ganteng pas ngasih obat, jelas jelas saya bilang "dokkk saya masih menyusui lohhh" ehh di bom pakai antibiotik yg kalau ngebom bakteri di badan ga tanggung tanggung ke segala arah, sampe bakteri baik mati semua juga, plus ada indikasi efek samping menyeramkan.

akhirnya sms mbakyu dr ian hehehe yang menyarankan ganti ke amoxilin ajahh, aihh lemess, haruskah dok??? tapi pas baca baca artikel memang harus, hiks hiks…

oh iya.. saya juga di sinar gitu dehh bulak balik rspi, biar lancar meler dan kuping ga sakit plus kepala ga pusing lagi dan jadi galak berat sama anak… jadi ajo bener bener harus segera mengambil alih tugas saya sebagai ibu kalau anak anak pada rewel

ok.. temans… karena sibuk berat silahkan baca baca artikel berikut yaa..

Sinusitis

Sinusitis means infection or inflammation of the sinuses. The sinuses are air-filled spaces within the bones of the face. They are located in the cheeks (maxillary), forehead (frontal) and around the eyes (ethmoidal). The sinuses are linked together, and connected to the nose and throat, via narrow channels called ostia. One function of the sinuses is to warm and moisten inhaled air before it reaches the lungs. The sinuses are also lined with cells that help prevent infection by producing mucus to trap particles of dirt and other pollutants that are breathed in.

Causes of sinusitis
Sinusitis is caused by too much mucus, or a swelling of the lining of the sinuses and nose, which can block the narrow channels. This can occur during a cold, or may be due to allergy (for example, hayfever) or irritation of the linings of the sinuses (for example, from chlorine in a swimming pool). Bacteria (germs) then grow inside the sinuses, causing pain, headache and sometimes fever. Mucus from infected sinuses can be yellow or green. Some people get sinusitis with most colds, while others get it rarely.

Symptoms
Common symptoms of sinusitis include:

  • Blocked nose
  • Feeling of pressure inside the face
  • Facial pain, particularly when leaning forward
  • Headache
  • Aching teeth in the upper jaw
  • Yellow or green-coloured mucus from the nose
  • Swelling of the face
  • Loss of the senses of smell and taste
  • Persistent cough
  • Generally feeling unwell.

Risk factors
Certain factors increase a person’s susceptibility to sinusitis, including:

  • Frequent colds (especially for young children)
  • Cigarette smoking (active or passive)
  • Regular use of nasal decongestant sprays (for more than two to three days)
  • Untreated hay fever or other allergies
  • Structural abnormalities of the nose
  • Nasal polyps (swellings in the linings of the nose or sinuses)
  • Dental disease, such as untreated tooth abscess.

Complications of chronic sinusitis
Some people are troubled by frequent sinus infections, or continuous infection. Chronic sinusitis can linger for weeks or even months at a time. This can sometimes lead to serious complications, including infections in the bones and tissue near to the sinuses. Very rarely this infection can spread to the brain and the fluid around the brain. The person will be very ill and have swelling around the eyes.

People with chronic sinusitis may have other problems which affect the nose, throat and ears at the same time, including:

  • Middle ear infection and temporary deafness
  • Post-nasal drip (fluid from the sinuses and nose constantly drips down the back of the throat), which can lead to constant coughing, a sore throat and bad breath.

Treatment options
Decongestants that help with symptoms of colds usually do not help with sinusitis. Nose sprays can even make the problem worse, if they are used for too long, because they can cause more swelling. Antibiotics are often prescribed for sinusitis. Most people will recover fully from sinusitis in a week or so without antibiotics, but they may recover more quickly if effective antibiotics are used. (Some antibiotics are much more useful for sinusitis than others).

Other options to manage the symptoms of sinusitis include:

  • Steam inhalation, perhaps including a few drops of eucalyptus oil
  • Comfortably hot compresses held against the face
  • Pain relief medication, such as paracetamol.

If you suffer from sinusitis, it’s important to see if there is any trigger which can be treated. For example, hayfever or dental disease may need to be treated, or you may want to avoid irritants by staying out of swimming pools.

Surgery to drain the pus and improve the flow of mucus from the sinus may be an option for persistent cases of sinusitis.

Where to get help

  • Your doctor
  • Chemist.

Things to remember

  • Sinusitis means infection or inflammation of the sinuses, which are air-filled spaces inside the bones of the face.
  • Symptoms include yellow or green-coloured mucus draining from the nose, facial pain and headache.



(Logo links to further information)

This page has been produced in consultation with, and approved by:



Better Health Channel

    Copyight © 1999/2007  State of Victoria. Reproduced from the Better Health Channel (www.betterhealth.vic.gov.au) at no cost with permission of the Victorian Minister for Health. Unauthorised reproduction and other uses comprised in the copyright are prohibited without permission.
This Better Health Channel fact sheet has passed through a rigorous approval process. For the latest updates and more information visit www.betterhealth.vic.gov.au.
   

Last reviewed: March 2007

Sekolah Anak

January 25th, 2007 by revawira

hari ini baru mulai masuk setelah bbrp hari bed rest dirumah dengan diagnosa standar hasil widal paratifus hehehe, sambil deg deg an tapi optimis hasil gal culture senin nanti negatif bukan tifus.

tadi baca baca di milis sehat subject "tabungan pendidikan was perbanyak asi"

ya asi membuat kita ortu untung ga perlu beli susu mahal, anak untung dapet susu hasil ciptaan Allah yang maha kuasa, trus duit hasil ortunya kerja dikemanain?, ya sebisanya ditabung, mengingat biaya pendidikan yang mahal.

nah "mahal"nya ini sering jadi perdebatan, dulupun saya beridealisme, sekolah harus murah, perlahan idealisme saya rubah setelah realistis mengingat pengalaman pribadi, bahwa masalah sekolah itu bukan di murah atau mahalnya, tapi banyak faktor lain sehingga sekolah bisa dikatakan bermutu karena menghasilkan tunas tunas bangsa yang berguna bagi agama, bangsa dan negara.

ok, secara ga bisa banyak waktu buat nulis, email yang saya tulis ke milis sehat saya copy disini, walaupun banyak kekurangan karena terlalu buru buru nulisnya

—– Original Message —–
From: Ade Novita
To: sehat@yahoogroups.com
Sent: Friday, January 26, 2007 12:02 PM
Subject: Re: [sehat] Re: tabungan pendidikan anak == perbanyak ASI
wahhh seru ya….
sekalian curhat dehhh
aku salah satu ibu yang sejak punya anak dilema dengan sistem pendidikan di indo ini, sejujurnya tentunya dari segi harga
akhirnya, sedikit demi sedikit sambil mempelajari bbrp jenis tabungan yang bisa dipilih untuk pendidikan
makin lama kalau ada rezeki ya ditambah alokasinya
urutan pertama tentunya belajar dari pengalaman, hampir ga mampu bayar uang pendidikan tinggi (universitas), aku ga mau anakku mengalami hal sama
aku pilih tabungan atau asuransi yang memaksa aku untuk disiplin menabung, dan bisa diambil sesuai perhitungan inflasi saat reva mau sekolah tinggi nanti
kemudian setelah berasa cukup, coba buat yang buat daftar sma, smp kemudian sd kemudian untuk preschool
nah karena pasangan baru, sambil survey sekolah, dan berdoa semoga semakin hari pendidikan di indonesia merata dan kurikulum membaik, aku pilih sekolah dengan kriteria simple
1. deket
2. mengenal dunia anak
3. murah
4. ada pelajaran agama dan budi pekerti
nahh masuklah reva ke tk sederhana dan dikarenakan kedekatan dengan pihak yayasan pemilik, kita bisa diskusi, kasih artikel soal perkembangan dsb
tapi belakangan saya sadar, bicara soal kurikulum dan idealisme dengan pihak sekolah tentunya belum tentu sama dengan pihak gurunya
artinya kurikulum ok belum tentu penyampaian nya ok, atau tujuan jadi ga tercapai
belum lagi pengaruh lingkungan, yang memaksa terkadang guru jadi ga rasional
pikiran saya berubah
murah terpaksa saya coret dengan biaya realistis atau seimbang
dekat pun saya ubah jadi terjangkau alias ga perlu jauh jauh amat sampai memaksa anak bangun pagi buta dan ga sempet sarapan
saya fokus ke mengenal dunia anak
artinya… mengenali perkembangan anak sesuai tahapannya
saya ortu yang pernah diketawain krn ga ajarin anaknya calistung, padahal sebenarnya cuma beda metode aja, menghitung kan ga harus dgn berhasil menjawab sederet angka di kertas bukan?
ya karena saya percaya semua ada tahapannya
saya ingin anak saya bisa berhitung karena dia tau manfaatnya
saya ingin anak saya bisa membaca ya karena dia tau nikmatnya membaca dan kegunaannya
jadi jangan harap saya akan biarkan anak saya ke sekolah merasa terpaksa atau takut
saya ingin dia merasa nyaman di sekolah
ga takut untuk bertanya karena bertanya proses belajar bukan?
aku juga ga mau anakku nantinya ga ngerti buat apa belajar matematika, apa gunanya fisika? apakah harus menjadi pengacara, dokter, insinyur untuk hidup enak? apakah harus jadi artis untuk bergelimang harta? takbisakah aku exist membangun negara ini dengan menjadi penari, pelukis?

kasian juga reva, konsekuensi dia jadi anak pertama saya, dia sring saya ajak trial atau iktu program summer camp bbrp sekolah
dari situ saya pelajari mana yang menurut saya paling membuat reva mau berangkat dengan kesadaran penuh dan tanpa merasa dipaksa
begitu saya nemu, sekolah yang dia suka
saya terus menerus "menganggu" sekolahnya, soal metode, komunikasi dll
saya juga mencari sekolah yang terbuka, dalam artian mereka terbuka akan kritik dan mau mendengar
hehehe sebelum terlanjur jadi cerpen dan kepanjangan saya sudahi dehhh
karena saya bisa paham gundahan hati ortu semacam saya yang sampai sekarang pun masih terus berdoa kurikulum pendidikan negara kita membaik dan membaik, sehingga semua sekolah sppnya bisa rata, dan bisa menghasilkan orang orang yang menyadari betapa pentingnya ilmu dan menghargai pekerjaan sesuai profesinya masing masing
salam
ade-bunda reva dan wira
last but not least, inti dari keberhasilan seorang anak ga bisa dibebankan begitu saja kepada sekolah, kita ortunya adalah gurunya yang utama, sekolah hanya membantu, sebagus apapun sekolahnya, kalau dirumahnya ga ditunjang dengan pendidikan yang baik juga, jangan harap bisa mendapatkan anak yang potensial atau bermutu.
sebagus apapun kurikulum sekolahnya tapi ga mampu membagi pendidikan dan metode serta mensejahterakan gurunya, ya ga akan bisa juga menjadikan suatu sekolah itu bermutu.
hehehe jadi temen-temen yang nanti berminat bikin sekolahan, jangan lupa yaa kesejahteraan para guru sang pahlawan tanpa tanda jasa, bukan gaji gede aja.. tapi pendidikan mereka, penghargaan terhadap jerih payah, ehhh kok jadi pengen ngomong sama pengusaha juga ya hehhe, abis banyak pengusaha kurang menghargai tenaga kerja nihhh maunya dapat untung tapi meminimalisir modalnya dengan kurang respect terhadapa pekerjanya
mmm mulai error, time to have lunch hehehehe